Oleh :
H.Ahmad Musodik
Widyaiswara
Madya
Balai Diklat
Keagamaan Bandung
e-mail : indisav172@gmail.com
Abstract
The purpose of writing this article to
explain the mass media as a communication channel that is used massively by the
community in playing a role and functions to collect, manage and present
information, in relation to the effort to reduce violent religious. Nuanced religious
violence is strongly influenced by the presence of miscommunication between
religious communities, which can be traced back to dysfunctional communication
necessitated derived from including through the mass media. The results show
that the extension problem for religion is how the roles and functions that
must be played in using the mass media to motivate religious dialogue.
Keywords: Mass media, motivation, interreligious dialogue .
Media massa sebagai saluran komunikasi ,
terutama dalam kajian komunikasi politik, memiliki karakteristik tersendiri
yang berbeda dengan saluran komunikasi yang lain. Hafied Cangara ( 2004 : 134
-135 ) memaparkan lima karakteristik media massa : Pertama, media massa
bersifat melembaga, pihak yang mengelola media massa melibatkan banyak individu
mulai dari pengumpulan, pengelolaan sampai pada penyajian informasi; Kedua, bersifat
satu arah; Ketiga, jangkauan yang luas dan kecepatan waktu, bergerak
dengan daya jangkau yang luas dalam
penyebaran secara simultan dan
dapat diterima oleh banyak individu pada masyarakat; Keempat, informasi
/pesan yang disampaikan dapat diserap oleh siapa saja tanpa membedakan faktor
demografi, jenis kelamin, usia, suku bangsa bahkan tingkat pendidikan; Kelima,
dalam penyampaian pesan/informasinya media massa menggunakan peralatan
mekanis dan teknikal.
Karakteristik itu yang menyebabkan media
massa menjadi salah satu saluran
komunikasi yang dianggap paling efektif digunakan untuk menyampaikan pesan
/informasi kepada khalayak. Bahkan di era keterbukaan informasi ini media massa
merupakan saluran komunikasi efektif untuk mendorong umat beragama melakukan
dialog-dialog agar tidak terjadi ketegangan dalam konflik yang berkepanjangan.
Menurut penelitian McQuail, media massa
merupakan alat kekuasaan yang paling efektif digunakan untuk menyampaikan pesan/
informasi kepada khalayak, karena media massa itu (1) dapat menarik dan mengarahkan perhatian, (2)
membujuk pendapat dan anggapan, (3)
mempengaruhi pilihan sikap, ( 4 ) memberikan status dan legitimasi dan ( 5 ) mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas.
(Denis McQuail, 1987: 81-106 ).
Hasil
penelitian itu menunjukkan bahwa ada tiga keuntungan penggunaan media massa, pertama,
media massa memiliki keampuhan yang besar dalam memperkuat ( reinforcement ) suatu kondisi atau situasi
tertentu; kedua, media masa memiliki efek kuat dalam membentuk persepsi
khalayak bahwa yg menjadi pesan/informasi itu merupakan hal penting; ketiga,
semakin sering pesan/informasi itu disampaikan melalui media massa maka
akan semakin mendapat perhatian besar dari khalayak/masyarakat.
Tetapi tentu saja tidak dapat dipungkiri
adanya perbedaan di lingkungan media massa dalam memandang / menganggap suatu
realitas dan atau peristiwa yang terjadi. Bahwa satu peristiwa dan atau satu
hal dianggap/ dipandang penting dan memiliki nilai berita yang tinggi oleh satu
media massa, belum tentu dianggap/dipandang sama oleh media massa yang lainnya.
Hal itu dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal media massa.
Ibnu Hamad ( 2004 : 2 – 3 ) menyatakan
bahwa boleh jadi sebuah media massa dipengaruhi oleh berbagai factor internal
berupa kebijakan redaksional tertentu mengenai suatu kekuatan politik,
kepentingan politik para pengelola media, relasi media dengan sebuah kekuatan
politik tertentu; dan faktor eksternal seperti tekanan para pembaca atau pemirsa, system politik yang berlaku dan
kekuatan-kekuatan luar lainnya.
Sepanjang pemaparan tadi dapat ditarik tali
simpul bahwa media massa , termasuk jejaring sosial semacam Face Book
dan Twitter di dalamnya, sangat menjanjikan hal-hal yang kondusif bagi
pelaksanaan tugas kerja para Penyuluh Agama. Terutama jika mengingat bahwa
tugas kerja para Penyuluh Agama adalah
menyampaikan pesan-pesan agama dan pesan-pesan pembangunan Nasional melalui
bahasa dan pintu agama. Akan tetapi dalam tataran kenyataannya menunjukkan
bahwa belum secara optimal fungsionalisasi media massa tersebut digunakan oleh
para Penyuluh Agama. Terutama dalam kontek memotivasi dialog umat beragama.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana problem itu menyosok ? selanjutnya apa
alternative problem solving yang dapat dikedepankan ?
B. JEJARING SOSIAL ( FACE BOOK DAN TWITTER
) SEBAGAI MEDIA MASSA DAN FUNGSIONALISASINYA UNTUK MEMOTIVASI DIALOG UMAT BERAGAMA .
Yoseph Straubhaar dan Robert LaRose mencatat bahwa telah terjadi
perubahan terminology menyangkut media massa. Perubahan tersebut berkaitan
dengan teknologi, cakupan area, produksi massal
( mass production ), distribusi missal ( mass distribution )
sampai dengan efek yang dimunculkannya (
Straubhaar, Yoseph dan LaRose Robert., 2002 : 24 ).
Awalnya pesan/ informasi disampaikan dengan menggunakan selebaran/
manuskrip dan penyebarannya masih menggunakan tenaga manusia untuk sampai
kepada tujuan penyampaian pesan / informasi itu. Selanjutnya, dengan
ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada pertengahan abad ke-14
maka muncullah gelombang baru dalam jagad media massa yang ditandai dengan
munculnya media massa cetak seperti buku, majalah, Koran dan sejenisnya.
Penemuan teknologi tranmisi audio visual melalui gelombang frekwensi
udara, telah mempengaruhi berkembangnya media massa lebih pesat lagi.
Penyampaian pesan /informasi yang awalnya hanya menjangkau wilayah tertentu
saja, mulai berkembang menjadi lebih luas, yang dahulunya hanya bersifat media
massa cetak kemudian bergerak ke media massa yang bersifat audio, visual bahkan
gabungan ( kombinasi audio- visual ). Media massa tidak lagi sebagai media
penyampai pesan/ informasi, tetapi bahkan menjelma menjadi sumber informasi,
sumber hiburan, sumber pendidikan, gaya hidup, hingga bisnis yang
menguntungkan.
Media massa yang sangat popular di Indonesia saat ini bahkan menyaingi
media massa yang lebih mendahului kehadirannya di tengah-tengah masyarakat
adalah jejaring social yang dikenal
dengan Facebook dan Twitter
. Berdasarkan hasil survey yang dirilis oleh ALEXA The Web Information Company, Indonesia
bahkan menduduki peringkat ke-7 di dunia dalam menggunakan Facebook ,
sampai tulisan ini dibuat setidaknya terdapat sekitar 11, 759, 980 akun Facebook
yang dibuat oleh pengguna dalam rentang usia antara 18 – 40 tahun.
Jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter ini lebih
merupakan media massa yang mengandalkan jaringan media baru yakni internet,
yang membedakannya dengan media tradisional. Sebagai media baru , menurut
Nicholas Gane dan David Beer dalam New
Media, New York : Berg Publisher ( 2008 ) , internet memiliki beberapa
kriteria yang tidak atau hanya sebagian saja yang dapat dimiliki oleh media
tradisional. Kriteria itu adalah net
work, informations, interface, archieve,interactivity dan simulation.
Pengguna layanan internet di Indonesia memiliki jumlah yang selalu
berkembang dari tahun ke tahun. Data yang diliris oleh internet world
start.com menyebutkan bahwa ada lebih dari 30 juta orang pengguna internet
di Indonesia dan angka pertumbuhannya sekitar 12,5 % per tahun.
Dengan jumlah user yang banyak ini, internet menjadi wilayah
virtual ( cyber ) yang subur
untuk melakukan beragam aktivitas, termasuk akitivitas menyampaikan
pesan/informasi pembangunan melalui pintu dan bahasa agama yang sangat
dimungkinkan dilakukan oleh para Penyuluh Agama.
Terdapat beberapa kelebihan yang dimiliki media massa internet ( cyber
) seperti Facebook dan Twitter
ini dibanding dengan media tradisional lain, di antaranya:
1.
dalam situs jejaring sosial ini pesan/ informasi yang
disampaikan bersifat apa adanya, oleh siapa saja, dengan tanpa peduli
diintimidasi dan disensor, yang membedakannya dengan media massa tradisional
lainnya yang sebagaimana diketahui setiap teks, gambar, atau ilustrasi yang dipublikasikan
haruslah melalui mekanisme kendali redaksi dengan penyesuaian sesuai kebijakan
masing-masing media, yang tidak jarang kebijakan dewan redaksi ini diintervensi
oleh selera/ kehendak pemilik modal dan pengiklan ( John Mc Namus, 1994 : 34 );
2.
kekuatan internet (
cyber ) bersifat multi
akses, informasi yang disampaikan di internet tidak hanya dapat diakses oleh
anggota dalam satu jaringan yang sama semata bahkan dapat diakses oleh siapapun
dan dari wilayah manapun. Laporan Majalah Bussiness Week , Edisi Oktober
2013 lalu memaparkan bahwa masa depan
jaringan televisi tradisional akan semakin bersaing ( bahkan tergerus ) oleh
keberadaan TV internet yang digerakkan oleh Yahoo dan Intel;
3.
internet merupakan perpustakaan dokumentasi
online terbesar dan terlama, karena setiap content yang
dipublikasikan, misalnya di situs jejaring social akan tersimpan dalam waktu
lama selama account jejaring
social termaksud masih aktif, bahkan setiap kata kunci dari informasi yang
disampaikan di internet akan mudah ditemukan dalam hitungan detik melalui
fasilitas pencarian seperti Google dan Yahoo. Berbeda dengan media massa
tradisional siaran Televisi yang mengendap hanya dalam waktu yang terbatas dan
singkat di benak pemirsanya atau dalam media massa lainnya, selain televisi,
yang perlu tenaga dan waktu untuk mencarinya melalui dokumentasi fisik, micro
film, media cetak lainnya di perpustakaan dan atau di file dokumen;
4.
internet terutama jejaring sosial Facebook
dan Twitter memiliki kecepatan dalam penyebaran informasinya, selain itu
juga sangat interaktif ; kelima, akses internet sangat murah ( baik yang
disediakan oleh “warnet” maupun yang ditawarkan oleh server celuler atau kartu telepon
genggam ).
Penyuluh
Agama Islam sebagai Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang
dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan
bimbingan dan penyuluhan agama Islam dan pembangunan melalui bahasa agama.
Sejak
semula Penyuluh Agama merupakan ujung tombak Kementerian Agama dalam
melaksanakan penerangan agama Islam di tengah pesatnya dinamika perkembangan
masyarakat Indonesia. Peranannya sangat strategis dalam rangka membangun
mental, moral dan nilai ketakwaan umat serta turut mendorong peningkatan
kualitas kehidupan umat dalam berbagai bidang baik di bidang keagamaan maupun
pembangunan yang di
dalamnya termasuk memotivasi dialog umat beragama dalam kerangka mewujudkan
kerukunan umat beragama.
Dalam jejaring sosial yang menggunakan internet ini, yang menjadi focus
pembahasan dalam penulisan artikel ini yakni Facebook dan Twitter,
tersedia “halaman” dan “group” yang menyediakan sajian untuk hal-hal yang
berkaitan dengan bidang keagamaan , di antaranya : majlis ilmu,majalah ummi,
sucikan hati dari penyakit hati, random ayat (Al Qur’an), JurnalHajji, KH.
Muhammad Arifin Ilham, Ustadz Felix Siaw dan lain-lain.
Sebenarnya jika ada kehendak dan keinginan di kalangan para Penyuluh
Agama, jejaring social, Facebook dan Twitter, itu sangat besar
peluangnya digunakan untuk memotivasi dialog umat beragama. Pemotivasian untuk
hal itu memang termasuk ke dalam wilayah manajaerial ( bagian dari kegiatan
manajemen ). Dan untuk manajemen memang dibutuhkan seni untuk memainkan/
memerankannya.
Motivasi itu sendiri secara
generik berasal dari bahasa latin , yakni movere , yang berarti
“menggerakkan” ( to move ), demikian dinyatakan J.Winardi ( 2002 : 1 ). Motivasi ini meskipun bagi yang menggerakkan
awalnya sebagai kegiatan manajerial tetapi
dalam prosesnya menyentuh wilayah psikologis terutama jika mengingat yang
menyebabkan timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya presistensi
kegiatan-kegiatan sukarela ( volunteer ) yang diarahkan kea rah tujuan
tertentu ( Mitchell, 1982 ; 81 ).
Para aktivis sosial dan para
manajer perlu memahami proses-proses psikologikal, jika hendak membina
masyarakat dan atau para karyawan , melalui pembinaan yang bersifat memotivasi
agar mencapai keberhasilan dalam tujuannya
dengan menggunakan pemberian motivasi itu. Ada pendapat lain yang
menyatakan bahwa analisis motivasi , perlu memusatkan perhatian pada faktor-faktor
yang menimbulkan dan mengarahkan aktivitas-aktivitas seseorang ( Atkinson,
1964). Hal yang senada disampaikan oleh Jones ( 1955 : 14 ) bahwa motivasi itu
berkaitan dengan persoalan bagaimana perilaku diawali, dienerji, dipertahankan,
diarahkan, dihentikan dan jenis reaksi subyektif macam apa yang terdapat di
dalam organisme yang bersangkutan, sewaktu segala hal yang dikemukakan
berlangsung.
Menurut James L. Gibson et.al , jika kita mempelajari berbagai
macam pandangan dan pendapat tentang persoalan motivasi, maka dapatlah kita
menarik sejumlah kesimpulan tentang motivasi , yaitu :
1.
Para teoritisi menyajikan penafsiran-penafsiran yang
sedikit berbeda tentang motivasi dan mereka menitikberatkan faktor-faktor yang
berbeda-beda;
2.
Motivasi berkaitan dengan perilaku dan kinerja;
3.
Motivasi mencakup pengarahan tujuan;
4.
Motivasi berkaitan dengan banyak faktor yang harus
dipertimbangkan, seperti : psikologikal, fisiologikal, dan lingkungan ( environmental
) sebagai faktor yang penting (
Gibson, et.al, 1985 : 99 ).
Motivasi lebih merupakan konsep eksplanatoris, yang dapat dimanfaatkan
untuk memahami perilaku-perilaku yang diamati. Tetapi perlu diingat bahwa motivasi
itu diinferensi ( sesuatu yang tidak dapat diukur secara langsung, hanya dapat
dimanipulasi kondisi-kondisinya yang tertentu setelah diobservasi melalui
perubahan-perubahan perilaku ), demikian penjelasan Petri ( 1979 : 4 ).
Perubahan perilaku yang teramati,
dapat memperbaiki pemahaman
seseorang/individu tentang motivasi yang mendasarinya. Kita harus hati-hati dalam hal inferensi-inferensi
motivasional. Sewaktu makin banyak informasi dicapai, maka inferensi-inferensi
kita makin akurat, dengan demikian berarti kita dapat meniadakan
ekspalansi-eksplanasi alternative.
Problemnya adalah bagaimana seorang supervisor aktivis social atau
seorang manajer menerapkan motivasi secara efektif ? Motivasi dapat bersifat
positif dan dapat pula bersifat negatif. Motivasi positif yang kadang dinamakan dengan “motivasi yang
mengurangi perasaan cemas” ( anxiety reducing motivation ) atau
“pendekatan wortel” ( the carrot
approach ) adalah motivasi yang bersifat menawari sesuatu yang bernilai (
misalnya imbalan berupa uang, pujian, kemungkinan untuk mendapatkan sesuatu
yang betul-betul dibutuhkan dan bernilai /berharga ). Sedangkan motivasi
negatif yang sering dinamakan “pendekatan tongkat pemukul” ( the stick approach ) adalah motivasi yang menggunakan ancaman hukuman
( teguran, peringatan, penurunan pangkat/jabatan, dan hal-hal yang bersifat
merugikan ).
Kesimpulan dari pemaparan tersebut bahwa motivasi adalah kekuatan potensial yang ada dalam diri
seseorang, yang dapat dikembangkannya sendiri, atau dapat pula dikembangkan
oleh sejumlah kekuatan luar yang diri seseorang, yang dapat mempengaruhi kinerja secara
positif atau secara negatif, tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi
seseorang yang bersangkutan.Tetapi harus pula diingat bahwa individu-individu
bertindak dapat pula dipengaruhi oleh dorongan yang ada dalam diri mereka
sendiri, berupa wants (
keinginan-keinginan ), needs ( kebutuhan-kebutuhan ) dan fears (
rasa takut ).
Dalam konteks penggunaan jejaring social seperti Facebook dan Twitter
ini, para Penyuluh Agama dapat memberikan motivasi positif dan sekaligus motivasi negatif terhadap
orang-orang yang menjadi ‘pertemanannya’ di jejaring social ( Facebook
dan Twitter ) itu, termasuk dalam memotivasi dialog umat beragama, baik
dialog intern umat beragama maupun dialog antar umat beragama bahkan dialog antar
umat beragama dengan Pemerintah, yang lazim dikenal dalam terminology “Trilogy Kerukunan
Umat Beragama” .
Dialog umat beragama hendaknya dipahami dalam makna seluas-luasnya agar
menampung sebanyak mungkin potensi yang ada untuk dikembangkan. Meski tak dapat
dipungkiri bahwa dalam tataran sejarah perkembangannya telah terjadi semacam
tarik menarik dalam penggunaan terminology antara “ dialog antar iman” dengan
“dialog umat beragama”.
Dialog antar/ lintas iman ( interfaith dialogue ) dipahami
sebagai dialog antar umat berbeda iman yang dijalankan secara personal maupun secara komunal. Oleh karena istilah
“iman “ menunjuk kepada pengalaman orang yang mempercayai dan menyerahkan diri
kepada Allah, kepada Yang Maha Pencipta, kepada Yang Ultimate, dan
menghayati penyerahan dirinya itu.
Sementara itu, istilah “agama” lebih menunjuk kepada sosialisasi dan
institusionalisasi pengalaman keimanan tersebut, yang nampak dalam kehidupan
komunitas, ajaran dan ibadahnya.
Sejalan dengan garis pemikiran itu, dialog lintas/antar iman ( interfaith
dialogue ) dapat saja terjadi dengan atau tanpa melibatkan institusi agama.
Sedangkan dialog antar umat beragama ( interreligious dialogue ) lebih
merupakan dialog yang dijalankan oleh antar umat beragama ( baik di internal
umat beragama maupun dengan eksternal umat beragama ) dengan lebih
terorganisir, baik secara langsung maupun tidak langsung menyertakan institusi
agama ( JB Banawiratma dan Zainal Abidin Bagir et.al., 2010 : 5-6 ).
Menurut Mukti Ali ( 1970 : 79 ), dialog antar orang beriman yang
dijalankan oleh para pengajar ( kalangan terdidik dan terpelajar ), dan bukan
para politisi, secara pribadi-pribadi lebih membuahkan hasil ketimbang dialog
antar orang beriman yang dijalankan secara formal pada tataran Pemerintahan . Para
Penyuluh Agama seharusnya dapat memainkan peran yang sangat strategis dengan
memfungsikan jejaring sosial Facebook dan Twitter sebagai media
massa yang sedang massif digunakan untuk dimotivasi para pengguna jejaring sosial
termaksud ke arah dialog umat beragama.
Fungsionalisasi media massa ~
dalam tulisan ini dibatasi dengan jejaring sosial Facebook dan Twitter,
oleh para Penyuluh agama dalam memotivasi dialog umat beragama menjadi
menemukan momentumnya, oleh karena : pertama, user ( pengguna ) Facebook
dan Twitter di Indonesia ini menempati urutan ke-7 di dunia dengan jumlah user account ( sampai tulisan ini dibuat ) 11.759.980 buah , menjadi wilayah virtual
yang memiliki kekuatan ( strengths ) untuk menggalang suatu movement ( gerakan ); kedua, dalam jejaring
sosial seperti Facebook dan Twitter seseorang dapat
mengekspresikan dirinya ( pendapat dan pendiriannya ) dengan tanpa harus merasa
dibawah tekanan dan pengawasan pihak lain; ketiga, komunikasi yang menggunakan
media massa jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter ini
bersifat multi akses, dapat menjangkau siapapun, apa pun dan dimanapun serta
kapanpun, dengan biaya murah.
Sepanjang hasil observasi ( pengamatan ) penulis terhadap fungsionalisasi media massa ( yang
dibatasi pada jejaring sosial Facebook dan Twitter ini ) di
kalangan para Penyuluh Agama, ternyata telah begitu banyak digunakan dalam
kerangka memotivasi untuk terjadinya peristiwa dialog umat beragama ( dan
terutama dialog di intern ummat beragama ). Dialog umat beragama melalui jejaring
sosial seperti Facebook dan Twitter yang diperankan oleh Penyuluh
Agama sebagai sebuah peristiwa, dapat dicermati terjadi dalam aktivitas
dibuatnya up date status ( pembaruan pernyataan ) yang berisi pernyataan
ajaran agama, up load ( pemuatan
suatu potret ) dari kegiatan keagamaan, yang kemudian mendapatkan apresiasi
dalam bentuk diberikannya “like” ( disukai ) dan mendapatkan comment ( komentar ) dari sesama teman pengguna.
Dialog umat beragama termaksud sebagai sebuah proses , dapat dicermati dalam
tahapan dan kelanjutan dialog komentar-komentar yang bersifat timbal balik di
antara sesama pengguna jejaring sosial Facebook dan Twitter.
Tetapi harus diakui bahwa fungsionalisasi media massa, jejaring sosial Facebook
dan Twitter, para Penyuluh Agama ini belum dilakukan secara intens
bahkan belum secara terstruktur, sistemik dan massif. Bahwa belum dilakukannya
secara intens dialog umat beragama melalui fungsionalisasi jejaring social Facebook
dan Twitter ini oleh Penyuluh Agama, dapat ditunjuk dalam realita
masih belum ada scheduling ( penjadwalan ) yang permanen dalam hitungan
bulan atau minggu bahkan terkesankan lebih bersifat on the spot ( serta
merta ) dan sangat temporer. Belum adanya penentuan kurikulum dan sylabusnya dan belum
adanya pengendalian serta evaluasi untuk kegiatan itu, merupakan pembuktian
bahwa kegiatan fungsionalisasi jejaring sosial Facebook dan Twitter
oleh para Penyuluh Agama dalam memotivasi dialog ummat beragama belum
sepenuhnya terstruktur dan sistemik.
Sementara belum meratanya beberapa blog dan group yang bermuatan penyampaian pesan /informasi
kegamaan di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter itu
diakses oleh seluruh Penyuluh Agama , menunjukkan belum sepenuhnya ihwal
kegiatan fungsionalisasi termaksud dilakukan secara massif.
C.
Penutup
Berdasarkan kajian sebagaimana dipaparkan tadi dapatlah ditarik inferensi
bahwa fungsionalisasi media massa (
jejaring sosial berbasis internet seperti Facebook dan Twitter )
ditengarai menjadi sesuatu yang ambivalence ( mengganda ). Di satu sisi
hal itu menemukan momentum strategisnya oleh karena : pertama, user (
pengguna ) Facebook dan Twitter di Indonesia ini dengan jumlah user
account ( sampai tulisan ini dibuat
) 11.759.980 buah , menjadi wilayah
virtual yang memiliki kekuatan ( strengths ) untuk menggalang suatu movement ( gerakan ); kedua, dalam jejaring
social seperti Facebook dan Twitter seseorang dapat mengekspresikan dirinya (
pendapat dan pendiriannya ) dengan tanpa harus merasa dibawah tekanan dan
pengawasan pihak lain; ketiga, komunikasi yang menggunakan media massa
jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter ini bersifat multi
akses , dengan biaya murah.
Tetapi di sisi lain, para Penyuluh
Agama ini belum melakukannya secara intens bahkan belum secara terstruktur,
sistemik dan massif. Bahwa belum dilakukannya secara intens dialog umat
beragama melalui fungsionalisasi jejaring sosial Facebook dan Twitter
ini oleh Penyuluh Agama, dapat ditunjuk dalam realita masih belum ada scheduling
( penjadwalan ) yang permanen dalam hitungan bulan atau minggu bahkan
terkesankan lebih bersifat on the spot ( serta merta ) dan sangat
temporer. Belum adanya penentuan kurikulum
dan silabusnya serta belum adanya pengendalian/ evaluasi untuk kegiatan itu,
merupakan pembuktian bahwa kegiatan fungsionalisasi jejaring sosial Facebook
dan Twitter oleh para Penyuluh Agama dalam memotivasi dialog ummat
beragama belum sepenuhnya terstruktur dan sistemik.
Untuk agar terbangun fungsionalisasi media massa, jejaring sosial
seperti Facebook dan Twitter, di kalangan para Penyuluh Agama ini
di masa mendatang, terlebih jika diorientasikan dalam kerangka memotivasi
dialog ummat beragama, perlu hendaknya dipertimbangkan segera digarap : pertama,
dibuat “wadah resmi” yang bersifat terbuka atau dapat dengan mudah diakses
melalui Facebook dan Twitter [ portal /blog di web site minimal
group ] untuk agar dimungkinkan
terjadinya proses dan peristiwa dialog umat beragama , dengan main member ( anggota utama ) para Penyuluh Agama ; kedua, dirancang segera kurikulum dan
syllabus dengan turunan topik nya secara berkala, misalnya kekhawatiran dan
kegelisahan yang sama dan merata dirasakan oleh segenap umat beragama, yang
disiapkan untuk di posting kan ; ketiga, segera ditetapkan scheduling
( penjadwalnya ) , misalnya sepekan
penuh atau sepekan lima hari; ke empat, dirancang instrument evaluasi kegiatan
untuk melakukan improvement ( pemeliharaan dan perbaikan ).
Daftar Kepustakaan
Ali,
Mukti. 1970. “Dialogue Between Muslims and Christians in Indonesia and Its
Problems”. Makalah disampaikan dalam Sidang Dewan Gereja Sedunia di
Lebanon.
Atkinson,
JW. 1974. An Introduction to Motivation. New Jersey : D Van
Nostrad, Pricenton.
Cangara,
Hafied. 2004. “ Krakateristik Media Massa” dalam Hamad,Ibnu, Konstruksi
Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta : Granit
Gane,
Nicholas dan Beer, David. 2008. New Media. New York : Berg Publisher
Gibson,
James . et.al. 1985. Organizations, Behavior – Structure – Processes. Texas
: Business Publications Inc.
Hamad,
Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas politik dalam Media Massa. Jakarta :
Granit
J.
Winardi. 2002. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta : Raja
Grapindo Persada
JB
Banawiratma dan Bagir, Zainal Abidin. 2010. Dialog Antar Umat Beragama. Jakarta
: Mizan Publika.
Jones.
MR ( Ed.) 1985. Nebraska Symposium on Motivation. Lincoln : University
of Nebraska Press.
Majalah
Business . Edisi Oktober 2013
Mc
Namus, John H. 1994. Market Driven Journalisme : Let Citizen Beware ?.
California : Sage Publication
Mc
Quail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga
--------------------.
1987. Mass Communication Theory : an Introduction. Beverly Hill : Sage
Publication
Mitchell,
Terrence R. 1982. Motivation : New Directions for Theory ,Research and
Practice. NewJersey : Academy of Management Review.
Petri,
Herbert . 1979. Motivation : Theory and Research. Belmont : Wardworth.
Straubhaar,
Yoseph dan LaRose, Robert. 2002. Media Now, Communication Media in the
Information Age. Belmont : Wardworth
Tidak ada komentar:
Posting Komentar