METODE
PENYULUHAN AGAMA ISLAM DALAM PROGRAM RECOVERY
(
PEMULIHAN ) MASYARAKAT PADA DAERAH
TERPAPAR BENCANA ALAM
Oleh
: H.A.MUSODIK
Widyaiswara
Madya
Balai
Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Bandung
e-mail
: indisav172@gmail.com
abstract
This paper presents the method of religious education
in the recovery program
(recovery) communities in areas exposed to
natural disasters. Natural disasters
can be seen as an
event as well as
a process. As
an event, natural
disasters can occur
due to the disruption of natural balance .As
a process, it is
a natural occurrence that resulted in a profound impact on human populations. Natural
disasters can be traced explanation
by using two explanations, namely: first,
to approach the
standpoint of Science (Natural
Sciences), and secondly, to approach the
standpoint of Theology (Science
Belief / Religious)
.By literature review approach, alternative methods
of religious education feasible (feasible) is
the method of mauizhah hasanah
(taushiyah techniques for the recovery of
mental and spiritual) and methods
al wisdom (with
ta'awwun techniques for physical recovery
of materials).
Keywords: methods of propaganda, community recovery, natural disasters
Keywords: methods of propaganda, community recovery, natural disasters
A.
PENDAHULUAN
Manusia sebagai khalifatullah fil
ardhi (pemegang mandat kepemimpinan dari
Allah di muka bumi) mengemban tugas dan
fungsi memelihara (himaya ) dan memakmurkan ( riayah) alam semesta. Alam semesta
diciptakan oleh Allah Swt memang diperuntukkan bagi manusia guna memenuhi
kebutuhan hidupnya. Hal termaksud dinyatakan sendiri oleh Allah Swt, antara
lain pada QS 2 Al Baqarah : 29
هو الذى خلق لكم ما فى الا رض جميعا ...
“Dia-lah
Allah , yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ( manusia ) semua…” (
Depag RI, 2005 :13)
Penunjukan
‘ardhun’ yang
diterjemahkan menjadi bumi dan sekitarnya , sebagai alam semesta , sebenarnya
menggunakan kaidah ilmu balagah yang
berbunyi :
من باب اطلق الجزء و ارادة الكل
“ dari bab yang terkait disebutkan sebagiannya tetapi yang
dikehendaki justru keseluruhannya”.
Syeikh Muhammad Abduh menyatakan
pemikirannya tentang alam sebagai berikut : “al- alamin” merupakan shighat
( bentukan kata ) yang berbentuk jama’ muzakkar salim ( menunjukkan banyak bagi jenis yang berkarakter lelaki dan berakal selamat ) dari “alam” . Alam , menurut Muhammad Abduh,
adalah setiap makhluk Tuhan yang berakal atau mendekati sifat-sifat yang
berakal, seperti alam manusia, alam binatang dan alam tumbuhan. Lihat
,Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan alam dalam Pemikiran Islam, Sains dan
Al-Qur’an. Bandung : Pustaka Hidayah,2006 : 19.
Dengan demikian bumi dan alam sekitarnya
harus diolah dan dibudidayakan oleh manusia
karena diperuntukkan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Proses mengolah dan membudi-dayakan bumi dan alam sekitarnya itu kemudian
dikenal dengan pelaksanaan tugas riayah
( pemakmuran ) yang merupakan salah
satu dari fungsi kekhalifahan manusia.
Untuk melaksanakan tugas riayah tersebut
manusia dibekali berbagai talenta dan potensi : pertama, kemampuan
memahami benda-benda dan kegunaannya ( QS 2 al- Baqarah :30 ), kedua,
idealism dari pengalamannya ketika berada di surga ( QS 56 al Waqi’ah : 28- 38 ), ketiga,
Tuhan telah menaklukan atau memudahkan alam raya untuk diolah manusia ( QS 14 Ibrahim : 32 – 33 ) penaklukan
yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia sendiri ( QS
43 Az Zukhruf : 12 – 13 ), keempat, mendapatkan
petunjuk-petunjuk ( wahyu ) melalui para Rasul Allah ( QS 20 Thoha : 123 ) ,
demikian menurut Ibnu Khaldun ( 1986 :
78 ).
Selain harus menjalankan tugas riayah ( memakmurkan ) bumi dan alam semkitarnya itu,
ummat manusia pun harus menjalankan tugas himayah ( pemeliharaan ) sebagai fungsionalisasi dirinya dalam fungsi
kekhalifahan yang lainnya.
Untuk mewujudkan fungsi kekhalifahan dirinya
dalam hal tugas himayah (
pemeliharaan ) bumi dan alam sekitarnya itu, manusia memerlukan kerja sama
dengan sesamanya. Oleh karena beratnya beban kerja dari tugas himayah yang
tidak akan mungkin dapat dilaksanakan secara individual ( perseorangan ). Kerja
sama antar sesama ummat manusia ini, selain untuk meringankan beban kerja juga
untuk memaksimalkan hasil kerja . Di dalam Al Qur’an ada dinyatakan tentang
kerja sama ini, antara lain pada QS 5
al-Maidah : 2
و تعا و نوا على البر و التقوى ولا تعا
ونوا على لاثم و العدوان
“dan tolong menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan janganlah tolong menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran.”
Bumi dan alam sekitar manusia itu tidak
selamanya berkembang dan bergerak
selaras dan sesuai dengan kehendak dan keinginan manusia. Kadang –kadang
justru bumi dan alam sekitarnya itu mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki
dan tidak diinginkan manusia. Keadaan bumi dan alam sekitarnya yang disebutkan
terakhir ini sering dikenal dengan bencana alam.
Bencana alam
itu sendiri dapat dilihat sebagai sebuah peristiwa sekaligus sebagai
sebuah proses. Sebagai sebuah peristiwa , bencana alam dapat terjadi karena
adanya gangguan keseimbangan alam . Bencana alam seperti banjir dan longsor,
dapat dimungkinkan peristiwanya terjadi oleh karena adanya keseimbangan alam
yang mengalami gangguan. Secara kausalitas
( sebab-akibat ) hal termaksud dapat dijelaskan sebagai berikut : bencana alam
seperti banjir dapat terjadi oleh karena aliran sungai yang mengalami
pendangkalan dan penyempitan ,yang diakibatkan oleh adanya sedimentasi (
pengendapan ) lumpur akibat adanya erosi ( pengikisan ) tanah di hulu sungai, yang
diakibatkan oleh adanya gangguan terhadap pepohonan ( tetumbuhan ) yang
semestinya menjadi factor penyerap dan sekaligus penahan air . Demikian pula
halnya bencana alam berupa tanah longsor, dapat dimungkinkan terjadi oleh
karena adanya gangguan keseimbangan alam.
Terganggunya keseimbangan alam itu dalam
konteks sudut pandang ekologis hakikatnya
lebih disebabkan antara lain oleh akibat ulah manusia yang dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dalam kaitan ini, Al Qur’an surah 30 Ar-Rum :
41 menyatakan :
ظهر الفسا د فى البر و البهر بما كسبت ايد
ى الناس ليذ يقهم بعض الذى عملوا لعلهم يرجعون
“telah nampak kerusakan di
daratan dan di lautan disebabkan karena tangan ( perbuatan ) manusia, supaya
dirasakan kepada mereka sebahagian dari ( akibat ) perbuatan mereka, agar
mereka kembali ( ke jalan yang benar )”.
Bencana alam bagaimanapun juga telah
mengakibatkan munculnya penderitaan dan nestapa bagi umat manusia. Dan oleh
karenanya sangat dibutuhkan adanya recovery ( pemulihan ) bagi
masyarakat yang terkena dampak bencana alam itu. Para Penyuluh agama , baik
dalam kapasitas sebagai individu (pribadi ) maupun dalam kapasitas sebagai
aparatur sipil Negara, dituntut untuk memiliki kepekaan, kepedulian
dan kemampuan dirinya untuk terlibat melakukan program recovery ( pemulihan ) bagi masyarakat yang terpapar bencana alam itu. Pertanyaannya
kemudian adalah metode penyuluhan agama yang bagaimana yang feasible (
kemungkinan dapat dikerjakan, layak dilakukan ) digunakan untuk program
pemulihan masyarakat pada daerah yang terpapar bencana alam itu ?
B. KERANGKA TEORITIK BENCANA ALAM BAGI MASYARAKAT SEBAGAI OBYEK
PENYULUHAN AGAMA DAN PEMBAHASAN ALTERNATIF METODE PENYULUHAN AGAMA DALAM PROGRAM PEMULIHAN MASYARAKAT PADA DAERAH TERPAPAR BENCANA ALAM
Sebagaimana diketahui bahwa bencana alam dapat
ditelusuri penjelasan terjadinya dengan
menggunakan dua penjelasan, yaitu : pertama, dengan pendekatan sudut
pandang Sains ( Ilmu Pengetahuan
Alam ) , dan kedua, dengan pendekatan sudut pandang Theology ( Ilmu Pengetahuan Ketuhanan/Keagamaan ).
Dalam penjelasan yang menggunakan pendekatan
Sains ( Ilmu Pengetahuan Alam) dinyatakan bahwa bencana alam terjadi karena adanya keseimbangan alam yang terganggu.
Secara kausalitas ( sebab-akibat ) hal termaksud dapat dijelaskan
dalam salah satu contohnya adalah sebagai berikut : bencana alam seperti banjir
dapat terjadi oleh karena aliran sungai yang mengalami pendangkalan dan
penyempitan ,yang diakibatkan oleh adanya sedimentasi ( pengendapan )
lumpur akibat adanya erosi (
pengikisan ) tanah di hulu sungai, yang diakibatkan oleh adanya gangguan
terhadap pepohonan ( tetumbuhan ) yang semestinya menjadi faktor penyerap dan
sekaligus penahan air . Demikian pula halnya bencana alam berupa tanah longsor,
dapat dimungkinkan terjadi oleh karena adanya gangguan keseimbangan alam.
Terganggunya keseimbangan alam itu dalam
konteks sudut pandang ekologis dalam telusuran Sains ( Ilmu Pengetahuan
Alam ) tersebut sekalipun masih dapat dikawinkan peneguhan penjelasannya secara
Theologis ( dari landasan Ilmu Ketuhanan/ Ilmu Keagamaan ). Dalam hal
terganggunya keseimbangan alam ini hakikatnya lebih disebabkan oleh akibat ulah manusia yang dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dalam kaitan ini, Al Qur’an surah 30 Ar-Rum :
41 menyatakan :
ظهر الفسا د فى البر و البهر بما كسبت ايد
ى الناس ليذ يقهم بعض الذى عملوا لعلهم يرجعون
“telah
nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena tangan ( perbuatan
) manusia, supaya dirasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat ) perbuatan
mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar )”.
Secara
terpisah , jika hendak menggunakan penjelasan dengan pendekatan Theology ( Ilmu Ketuhanan / Keagamaan ) maka bencana
alam itu dapat saja terjadi oleh karena semata atas irodah ( Kehendak ) Allah Swt ketika menerapkan Wa’iid
( Ancaman ) –Nya terhadap ummat
manusia yang telah berbuat dosa dan atau pelanggaran terhadap ketentuan hukum
dan peraturan yang digariskan oleh Allah
Swt. Sebagaimana dinyatakan dalam Firman Allah pada surah 16 An –Nahl : 112
و ضرب الله مثلا قرية كانت امنة مطمءنة ياءتها رزقها رغد ا من كل مكان
فكفرت بانعم الله فا ذاقها الله لبا س الجوع و الخوف بما كانوا يصنعون
“Dan Allah telah membuat suatu
perumpaan ( dengan ) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezekinya datang kepadanya
melimpah ruah dari berbagai penjuru, tetapi ( penduduknya ) mengingkari
nikmat-nikmat Allah itu, karena itulah Allah merasakan kepada mereka pakaian
kelaparan dan ketakutan , disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
Sepanjang
pemaparan tadi dapat disimpulkan bahwa bencana alam sebagai sebuah proses dapat dimungkinkan terjadi karena dua factor
: pertama, karena faktor terganggunya keseimbangan alam sebagai dampak tak
terhindarkan dari ulah tangan ( perbuatan ) manusia yang tidak bijak dalam
menggunakan dan menyikapi alam sekitar dirinya ; kedua, karena faktor lain
seperti siklus perubahan alamaiah sebagai bagian dari proses penciptaan ,
pertumbuhan, dan perubahan alami.
Bencana
alam sebagai suatu
peristiwa, lebih merupakan kejadian alam
yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia.
Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa
bumi,
tsunami, tanah
longsor, badai
salju, kekeringan, hujan
es,
gelombang panas, hurikan, badai
tropis, taifun, tornado, kebakaran
liar
dan wabah penyakit.
Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya adalah kelaparan,
yaitu kekurangan bahan pangan
dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam. Dua
jenis bencana alam yang diakibatkan dari luar
angkasa jarang mempengaruhi manusia, seperti asteroid
dan badai matahari. http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam#cite_note-bencana-migitasi
Dari
aspek jenisnya bencana alam ini terbagi menjadi : bencana alam yang bersifat
metereologis, yang bersifat geologis, yang bersifat wabah dan yang bersifat
ruang angkasa.
Bencana
alam meteorologi atau hidrometeorologi berhubungan dengan iklim. Bencana ini
umumnya tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus, walaupun ada daerah-daerah
yang menderita banjir
musiman, kekeringan atau badai
tropis (siklon, hurikan, taifun)
dikenal terjadi pada daerah-daerah tertentu. Bencana alam bersifat meteorologis
sepertibanjir dan kekeringan merupakan bencana alam yang paling banyak terjadi
di seluruh dunia. Beberapa di antaranya hanya terjadi suatu wilayah dengan
iklim tertentu. Misalnya hurikan terjadi hanya di Karibia, Amerika
Tengah dan Amerika
Selatan bagian utara. Kekhawatiran terbesar pada abad moderen
adalah bencana yang disebabkan oleh pemanasan
global.
Bencana
alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti gempa
bumi,
tsunami, tanah
longsor dan gunung
meletus.
Gempa bumi dan gunung meletus terjadi di hanya sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng
tektonik di darat atau lantai samudera. Contoh bencana alam
geologi yang paling umum adalah gempa
bumi,
tsunami
dan gunung meletus.
Gempa bumi terjadi karena gerakan lempeng tektonik. Gempa bumi pada lantai
samudera dapat memicu gelombang tsunami ke pesisir-pesisir yang jauh. Gelombang
yang disebabkan oleh peristiwa seismik memuncak pada ketinggian kurang dari 1 meter
di laut lepas namun bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Jadi
saat mencapai perairan dangkal, tinggi gelombang dapat melampaui 10 meter. Gunung
meletus diawali oleh suatu periode aktivitas vulkanis seperti hujan abu,
semburan gas beracun,
banjir lahar
dan muntahan batu-batuan.
Aliran lahar dapat berupa banjir lumpur atau kombinasi lumpur
dan debu
yang disebabkan mencairnya salju
di puncak gunung, atau dapat disebabkan hujan
lebat dan akumulasi material yang tidak stabil.
Sedangkan
bencana alam wabah atau epidemi adalah penyakit
menular yang menyebar melalui populasi manusia di dalam ruang
lingkup yang besar, misalnya antar negara atau seluruh dunia. Contoh wabah
terburuk yang memakan korban jiwa jumlah besar adalah pandemi flu, cacar
dan tuberkulosis (TBC).
Sementara itu, bencana alam dari ruang angkasa adalah datangnya berbagai benda langit seperti asteroid atau gangguan badai matahari. Meskipun dampak langsung asteroid yang berukuran kecil tidak berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga berkemungkinan besar untuk menabrak bumi. Bencana ruang angkasa seperti asteroid dapat menjadi ancaman bagi negara-negara dengan penduduk yang banyak seperti Cina, India, Amerika Serikat, Jepang, dan Asia Tenggara.
Bencana
alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosial
dan lingkungan.
Kerusakan infrastruktur dapat
mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian,
luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas, sementara
kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan
yang melindungi daratan.
Salah
satu bencana alam yang paling menimbulkan dampak paling besar, misalnya gempa
bumi, selama 5 abad terakhir, telah menyebabkan lebih dari 5 juta orang tewas,
20 kali lebih banyak daripada korban gunung meletus. Dalam hitungan detik dan
menit, jumlah besar luka-luka
yang sebagian besar tidak menyebabkan kematian, membutuhkan pertolongan medis
segera dari fasilitas kesehatan yang seringkali tidak siap, rusak, runtuh
karena gempa.
Bencana seperti tanah
longsor pun dapat memakan korban yang signifikan pada
komunitas manusia karena mencakup suatu wilayah tanpa ada peringatan terlebih
dahulu dan dapat dipicu oleh bencana alam lain terutama gempa
bumi,
letusan gunung berapi, hujan
lebat atau topan.
Manusia
dianggap tidak berdaya pada bencana alam, bahkan sejak awal peradabannya.
Ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen
darurat menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan, struktural
dan korban jiwa. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan manusia
untuk mencegah dan menghindari bencana serta daya tahannya. "Bencana
muncul bila bertemu dengan ketidakberdayaan", demikian menurut Bankoff, G. Frerks, D. Hilhorst (eds.)
(2003). Mapping Vulnerability: Disasters, Development and People..Hal
itu berarti bahwa aktivitas
alam yang berbahaya dapat berubah menjadi bencana alam apabila manusia tidak
memiliki daya tahan yang kuat.
Dalam
kaitannya dengan bencana alam, maka Indonesia merupakan negara yang sangat
rawan dengan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi,
tanah longsor, banjir dan angin puting beliung. Sekitar 13 persen gunung berapi
dunia yang berada di kepulauan Indonesia berpotensi menimbulkan bencana alam
dengan intensitas dan kekuatan serta dampaknya
yang beragam.
Bencana
alam berupa gempa bumi dan tsunami
Samudra Hindia pada tahun 2004 yang memakan banyak korban
jiwa di Provinsi Aceh
(NAD) dan Sumatera Utara serta
Sumatera Barat telah mendorong kuat diadakannya upaya cepat untuk mendidik masyarakat
agar dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi bencana alam. Namun,
upaya yang dilaksanakan tidak efektif karena persiapan menghadapi bencana alam
belum menjadi mata pelajaran
pokok dalam kurikulum pada lembaga-lembaga
pendidikan , baik di lembaga pendidikan
formal maupun di lembaga-lembaga pendidikan non formal di Negara kesatuan
Republik Indonesia. Materi-materi pendidikan yang berhubungan dengan bencana
alam pun masih terbatas pada beberapa mata pelajaran , seperti : IPA fisika,
IPS geografi dan mata pelajaran Al
Qur’an – Hadits.
Laporan
Bencana Asia Pasifik 2010 menyatakan bahwa masyarakat di
kawasan Asia Pasifik 4 kali lebih rentan
terkena dampak bencana alam dibanding masyarakat di wilayah Afrika
dan 25 kali lebih rentan daripada di Amerika
Utara dan Eropa.
Laporan PBB tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 18 juta jiwa terkena dampak
bencana alam di Indonesia dari tahun 1980 sampai 2009. http://www.easasiaforum.org Natural disasters in Indonesia:
Strengthening disaster preparedness, eastasiaforum.
Dari laporan yang sama Indonesia mendapat
peringkat 4 sebagai salah satu negara yang paling rentan terkena dampak bencana
alam di Asia Pasifik dari tahun 1980-2009. Laporan Penilaian Global Tahun
2009 pada Reduksi Resiko Bencana juga memberikan peringkat yang tinggi
untuk Indonesia pada level pengaruh bencana terhadap manusia – peringkat 3 dari
153 untuk gempa bumi dan 1 dari 265 untuk tsunami.http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam#Bencana_alam_geologi http://www.eastasiaforum.org Natural disasters in Indonesia:
Strengthening disaster preparedness, eastasiaforum.
Meskipun
perkembangan manajemen bencana
di Indonesia meningkat pesat sejak bencana tsunami tahun 2004 di wilayah
Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara serta Sumatera Barat, berbagai
bencana alam yang terjadi selanjutnya masih memperlihatkan diperlukannya
perbaikan yang lebih signifikan.
Daerah-daerah yang rentan bencana alam masih lemah dalam aplikasi sistem
peringatan dini, kewasapadaan resiko bencana dan kecakapan manajemen bencana.
Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia yang dimulai tahun 2005, masih dalam
tahap pengembangan dan belum menunjukkan hasil yang optimal sebagaimana yang
diharapkan.
Sebenarnya
menurut kebijakan pemerintah Indonesia, para pejabat
daerah dan provinsi diharuskan berada di garis depan dalam manajemen bencana
alam. Sementara Badan Nasional
Penanggulangan Bencana ( BNPB ) dan BASARNAS serta segenap
para realawannya dapat membantu pada saat yang dibutuhkan. Namun, kebijakan
tersebut belum menciptakan perubahan sistematis di tingkat lokal. Badan
penanggulangan bencana daerah direncanakan di semua provinsi namun baru
didirikan di 18 daerah. Selain itu, kelemahan manajemen bencana di Indonesia
salah satunya disebabkan oleh kurangnya
sumber daya manusia ( SDM ) dan masih sangat kuatnya pemerintah daerah bergantung kepada pemerintah
pusat.
Sementara
itu, dari aspek dampak bencana alam ini bagi masyarakat jika dikaitkan dengan struktur
demografis ( susunan keadaan
penduduk ) secara langsung maupun tidak
langsung akan bersentuhan dengan kehidupan keagamaan masyarakat. Oleh karena
keyakinan keagamaan masyarakat di Indonesia adalah mayoritas beragama Islam,
maka masyarakat yang terkena dampak bencana alam akan secara serta merta dapat dinyatakan
menjadi obyek penyuluhan agama Islam (
sebagai madh’u da’wah ) yang
perlu segera mendapatkan penanganan, bantuan dan pertolongan. Tetapi tentu saja
di kalangan masyarakat yang terpapar bencana alam itupun sekaligus memiliki
kapasitas sebagi da’i ( penyampai seruan, pendakwah ), terutama jika
mengingat bahwa tugas untuk menyampaikan taushiyah ( wasiat tentang kebenaran ajaran Islam dan
bersabar mengamalkan ajaran Islam dalam
keadaan yang bagaimanapun ) adalah tugas suci semua penganut ajaran Islam (
ummat Islam ).
Menghadapi
medan /lapangan Penyuluhan Agama di lingkungan masyarakat pada daerah yang terpapar
bencana, ultimate goal ( tujuan utama ) yang hendak dicapainya adalah recovery
( pemulihan ) , baik pemulihan infra strukturnya ( tempat tinggal, jalan raya, jembatan dan
lain-lain ) maupun pemulihan kesehatan jasmani dan rohani masyarakat / penduduk
.
Dalam
program recovery ( pemulihan )
masyarakat pada daerah yang terpapar bencana alam, beberapa alternative metode
Penyuluhan Agama yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan, antara lain :
1.
Mauizhah hasanah ( مو عظة حسنة )
= pengajaran yang baik; dalam implementasinya
dapat menggunakan teknik ceramah taushiyah untuk memulihkan kesehatan rohani masyarakat ( menyemai sikap
bersabar atas musibah terjadinya bencana alam, menyemai sikap tetap istiqomah
melakukan riyadhah dan taqorrub kepada Allah Swt );
2. Al hikmah ( الحكمة
) = Valid dalam
perkataan dan perbuatan, mengetahui yang benar dan mengamalkannya, wara' dalam dinullah,
meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat yakni
menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan
sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas
kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan
kata lain dakwah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan
komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif. Perhatikan : Masyhur Amin
( 1980 : 13 – 15 ) dan Rosyad Saleh (
1982 : 6-7 ).
Dalam
kitab al-Hikmah fi ad-Dakwah Ilallah Ta'ala oleh Said bin Ali bin Wahif
al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian al-Hikmah, antara
lain Menurut bahasa: adil, ilmu, sabar, kenabian, Al-Qur'an dan Injil; memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan
terhindar dari kerusakan; ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan
ilmu yang utama; obyek kebenaran (al-haq) yang didapat melalui ilmu dan
akal; dan pengetahuan atau ma'rifat.
https://www.google.com/search?q=dakwah+wikimedia&ie=utf-8&oe=utf-8
Metode
al hikmah ini dalam
implementasinya dapat menggunakan teknik ta’awwun untuk memulihkan infra struktur ( memperbaiki
gedung-gedung, jembatan, rumah tinggal, jembatan dan sebagainya ).
Alternatif metode penyuluhan agama itu dapat diterapkan secara
dikawinkan ketika di lapangan ternyata menghendaki demikian. Terkandung maksud bahwa
tantangan yang dihadapi di lapangan ketika hendak menyelenggarakan kegiatan
penyuluhan agama secara riil dapat dipastikan akan menentukan penggunaan metode
penyuluhan agama yang akan diterapkan kelak.
Dalam program recovery ( pemulihan ) masyarakat pada daerah yang
terpapar bencana alam, beberapa alternative metode Penyuluhan Agama yang dapat
dipertimbangkan untuk digunakan, antara lain : Mauizhah hasanah dan al
hikmah. Jika metode mauizhah hasanah, dengan teknik taushiyah dapat digunakan untuk pemulihan mental
spiritual maka metode al hikmah dengan teknik ta’awwun dapat
digunakan untuk pemulihan fisik material .
C.
PENUTUP
Bencana
alam lebih merupakan kejadian alam
yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia.
Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa
bumi,
tsunami, tanah
longsor, badai
salju, kekeringan, hujan
es,
gelombang panas, hurikan, badai
tropis, taifun, tornado, kebakaran
liar
dan wabah penyakit.
Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya adalah kelaparan,
yaitu kekurangan bahan pangan
dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam.
Sementara
itu, dari aspek dampak bencana alam ini bagi masyarakat jika dikaitkan dengan struktur
demografis ( susunan keadaan
penduduk ) secara langsung maupun tidak
langsung akan bersentuhan dengan kehidupan keagamaan masyarakat. Oleh karena
keyakinan keagamaan masyarakat di Indonesia adalah mayoritas beragama Islam,
maka masyarakat yang terkena dampak bencana alam menjadi obyek penyuluhan agama
Islam ( sebagai madh’u da’wah ) yang perlu segera mendapatkan penanganan,
bantuan dan pertolongan dalam melaksanakan program recovery ( pemulihan
).
Dalam program recovery ( pemulihan ) masyarakat pada daerah yang
terpapar bencana alam, beberapa alternative metode Penyuluhan Agama yang dapat
dipertimbangkan untuk digunakan, antara lain : Mauizhah hasanah dan al hikmah.
Berdasarkan pendekatan kajian pustaka ,alternatif metode penyuluhan agama yang feasible
( layak ) digunakan adalah metode mauizhah hasanah ( dengan teknik taushiyah
untuk pemulihan mental spiritual ) dan metode al hikmah ( dengan teknik ta’awwun
untuk pemulihan fisik material ).
Daftar
Pustaka
Al
Khuly. 1982. Tadzkiratu ad Duaat.
Kairo Mesir, Penerbit Daar al Qalam
Amin, Masyhur. 1980. Metode Dakwah Islam, Yogyakarta,
PT Sumbangsih
Bankoff, G. Frerks, D. Hilhorst (eds.) (2003). Mapping
Vulnerability: Disasters, Development and People.
Departemen Agama RI. 2005. Al Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta
Ibn Khaldun, dalam Sirajuddin Zar. 2006. “Muqoddimah”.
Bandung
Rosyad
Saleh. 1982. Manajemen Dakwah. Jakarta, PT Bulan Bintang
http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam#cite_note-bencana-migitasi
http://www.eastasiaforum.org Natural
disasters in Indonesia: Strengthening disaster preparedness, eastasiaforum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar